Pages

Sunday, 18 October 2015

Jangan Ragu Untuk Memulai Sesuatu Usaha

Ada cerita seorang mahasiswa di Amerika Serikat, yang tertidur di dalam kelas ketika seorang dosen sedang mengajar mata kuliah matematika. Dan ketika sang dosen menutup kuliah, ia hanya melihat satu buah soal yang dianggapnya sebagai pekerjaan rumah, tertulis di white board. Disalinnya soal itu, dan dicobanya untuk  mengerjakannya. Ia memang merasakan kesulitan yang tinggi dalam menyelesaikan soal itu. Perlu waktu hampir satu minggu, sampai akhirnya ia mampu menyelesaikan soal yang sangat sulit itu.

Satu minggu kemudian, kuliah matematika berlangsung kembali. Si mahasiswa menyerahkan soal dan jawaban yang dianggapnya pekerjaan rumah. Sang dosen terkejut. Mengapa ? Karena ternyata soal yang tercatat di white board seminggu yang lalu ternyata adalah soal yang tidak bisa diselesaikannya. Dan tidak ada mahasiswa yang mampu mengerjakannya. Sebagian mungkin karena malas. Sebagian lagi mungkin berpendapat, dosen matematika saja tidak mampu menyelesaikannya, apalagi mahasiswa? Tapi si mahasiswa yang ketiduran tadi, sama sekali tidak tahu bahwa soal yang diberikan adalah soal yang tidak bisa  diselesaikan oleh sang dosen.

Dan ketidaktahuan itu justru membuatnya mampu menyelesaikan soal sulit itu. Ini memang kisah nyata, yang saya baca dalam buku Unlimited Power karya Anthony Robbins. Saya beruntung pernah membacanya. Saya pun pernah membaca sepotong kalimat dalam sebuah buku, yang menyatakan bahwa tingkat keberanian  encoba dari seseorang sejak kecil sampai dewasa cenderung menurun. Dan pernyataan ini ada benarnya  juga. Ketika kita masih kecil, seringkali kita melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan akibat yang mungkin bisa terjadi.

Bahkan, kalaupun terjadi akibat yang buruk,  kita (yang masih kecil) seringkali mengabaikannya. Sebagai contoh, ketika kita mulai belajar berjalan. Saya yakin, semua kita tidak pernah berpikir panjang tentang akibat belajar berjalan. Bahkan, ketika kita terjatuh ketika belajar berjalan, kita tidak takut mengulanginya lagi. Sampai akhirnya kita bisa berjalan dan bahkan berlari. Dulu kita punya hukum 1 : 99. Satu keberhasilan  harus ditebus dengan 99 kegagalan.

Tapi, semakin bertambahnya usia, kita semakin mengurangi angka 99 itu, bahkan sampai ke titik nol. Kini, kita seakan-akan ingin punya hukum 1 : 0. Kita ingin keberhasilan dicapai dari satu kali usaha. Dan itu sangat  kecil kemungkinannya. Saya bukan menganjurkan anda untuk kembali lagi ke masa kecil, dan sama sekali tidak memikirkan resiko. Jika anda menghadapi keragu-raguan, pikirkan akibat baik dan buruknya. Pertimbangkan lah.

Jika lebih banyak baiknya, lakukan. Jika lebih banyak buruknya, tinggalkan. Jangan terlalu lama diombang- ambingkan keragu-raguan. Saran saya, beranikan diri untuk mencoba. Lebih baik gagal setelah mencoba, daripada tidak pernah mencobanya sama sekali.  
 

Tuesday, 13 October 2015

Cara Mengatasi Rasa Takut untuk Memulai Usaha

Beberapa abad yang lalu, Virgil mengatakan, "Fortune favors the bold." Keberuntungan menyukai keberanian. Belajarlah dari para tokoh olah raga yang mempunyai prestasi dunia, seperti Carl Lewis, Michael Jordan, Bjorn Borg, Andre Agassi, Zinedine Zidane dan lain-lain. Tidak hanya dalam dunia olahraga, tetapi juga dunia bisnis dan ilmu pengetahuan. Misalnya Thomas Alfa Edison, Bill Gates, George Soros dan sebagainya. Mereka mempunyai keberanian yang tinggi untuk menepis segala kekhawatiran akan keterbatasan dalam diri mereka

Mereka mampu berpikir di luar batas pikiran orang lain, dan bertindak di luar batas tindakan orang lain. Tak jarang, di awal upayanya, mereka disebut sebagai orang gila, sampai akhirnya mereka membuktikan sebaliknya. Karena itulah mereka mampu berprestasi dibidangnya masing-masing dan tampil sebagai tokoh yang berkarakter

Lepas dari tindakan-tindakan mereka yang terkadang negatif, keberanian bertindak membawa mereka pada keberhasilan memperoleh apa yang mereka cita-citakan.

Rasa takut memang manusiawi. Sangat manusiawi. Tanpa rasa takut, manusia tidak lah lengkap. Dan kultur sekolah kita, memang hampir selalu mengarahkan murid-muridnya berada pada rasa takut. Takut salah, takut dihukum, dan berbagai rasa takut lainnya. Tapi, mengungkung diri dalam selimut rasa takut, akan membuat anda tidak bertindak apa-apa. Kalau anda hidup tanpa tindakan-tindakan yang berani, anda tidak akan jadi apa-apa. Jangan berharap ada orang yang sukarela menolong anda, kalau anda hanya diam saja.

Seberapa besar rasa takut menghantui diri anda? Hanya andalah yang mampu mengukurnya. Lalu bagaimana mengatasinya? Marilyn King mengatakan bahwa keberanian kita secara garis besar dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu visi (vision), tindakan nyata (action), dan semangat (passion). Kekuatan pada ketiga hal tersebut mampu mengatasi rasa khawatir, ketakutan, dan memudahkan kita meraih impian-impian. Apa pun impian yang anda bayangkan. Apapun hambatan, akan bisa anda lewati jika visi, tindakan dan semangat anda begitu besar. Mungkin anda sudah keracunan rasa takut. Bisa jadi karena selama ini anda bergaul dengan orang-orang gagal

Dan biasanya, orang gagal tidak menginginkan orang lain berhasil. Tapi percaya lah, kegagalan yang terjadi pada orang lain (anda menyebutnya pedagang kecil) bukanlah penyakit menular. Kegagalan itu bukan virus. Jadi, apa yang harus ditakutkan? Justru kegagalan mereka seharusnya anda gunakan untuk belajar. Jangan lakukan tindakan-tindakan yang membuat mereka gagal. Karena anda sudah keracunan, tentu saja harus diobati. Yang paling mujarab, bergaullah dengan orang-orang sukses. Bergaullah dengan orang-orang yang optimistik. Insya Allah, sedikit demi sedikit racun itu akan berhasil dibuang.

Tears will not erase your sorrow; hope does not make you successful; courage will get you there. Air mata tidak akan menghapus dukamu; berharap tidak akan membuatmu sukses; hanya keberanian bertindak yang bisa membawamu kesana. Jadi, keluar lah dari rumah rasa takut anda. Hadapi berbagai masalah dengan semangat mencari solusi.

Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.

Sunday, 11 October 2015

Cerita Pemecahan Masalah Yang Dihadapi

Setiap orang pasti punya masalah, adalah langkah paling penting dalam menyelesaikan masalah. Tanpa hal itu, anda seolah-olah memang tidak punya masalah. Masalah anda adalah masalah keuangan, yang akan anda gunakan untuk biaya kuliah. Saya menghargai semangat dan keinginan anda untuk melanjutkan kuliah, tapi ada baiknya juga anda bertanya pada diri anda sendiri, untuk apa anda kuliah?

Ada banyak tujuan dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bisa untuk menambah pengetahuan. Bisa untuk gaul atau sekedar cari jodoh. Bisa juga untuk mencari gelar atau ijazah. Mungkin masih banyak lagi tujuan lain yang lebih personal. Tapi ujung-ujungnya, setelah lulus kuliah, anda harus mencari nafkah. Bisa dengan bekerja, atau berwirausaha. Apa pun pilihan anda, itulah yang terbaik bagi anda.

Jika tujuan akhir anda melanjutkan sekolah adalah untuk bekerja, ada baiknya juga anda pikirkan data berikut ini. Data BPS (Biro Pusat Statistik), jumlah angkatan kerja yang masih menganggur sampai Februari 2005 adalah 10,9 juta orang. Sejak Agustus 2004 sampai Februari 2005, angka pengangguran sudah bertambah 600.000 orang. Itu pun karena definisi pengangguran yang sangat longgar, yaitu orang yang dalam satu minggu hanya bekerja beberapa jam saja. Jadi orang yang bekerja satu hari dalam seminggu, tidak lagi disebut penganggur.

Mungkin anda membayangkan bisa mendapatkan pekerjaan formal yang nyaman dan terhormat setelah selesai kuliah nanti. Boleh-boleh saja. Tapi anda harus melihat realita. Saat ini, saya banyak temui, banyak sarjana bekerja tidak pada bidang spesialisasinya. Ada sarjana ekonomi yang rela jadi satpam atau petugas cleaning service. Ada sarjana peternakan yang jadi office boy atau waiter di restoran. Dan sebagainya.

Saya tidak menganggap pekerjaan-pekerjaan di atas sebagai pekerjaan tidak terhormat, tetapi dari sisi kompetensi pendidikan, pekerjaan-pekerjaan itu sama sekali tidak nyambung. Salah satu cara, yang memang mulai kami lakukan di Institut Kemandirian, adalah mencoba membuka pintu-pintu pekerjaan dari sisi non formal. Kami mendidik orang-orang yang punya semangat dan daya juang tinggi untuk hidup mandiri. Tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.

Sejak awal kami tanamkan pada mereka bahwa hidup mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri, sehingga mereka harus punya tujuan hidup sendiri-sendiri. Tanpa tujuan hidup, mereka hanya akan menjadi alat untuk mencapai tujuan hidup orang lain. Kalau anda menginginkan pekerjaan sampingan, silahkan datang ke Jakarta dan naik KRL. Sangat banyak pekerjaan yang tidak perlu pakai ijazah, pakai psikotest atau wawancara terlebih dahulu. Modalnya hanya kemauan. Mengapa saya anjurkan demikian? Karena, mohon maaf, anda tidak punya banyakmodal.

Sumber daya yang anda miliki hanya otak, dan itulah yang harus anda gunakan untuk menentukan tujuan hidup, belajar dan berusaha mencapainya. Malu? Kalau itu yang anda rasakan, berarti anda memilih untuk tidak berubah. Dan itulah yang terbaik menurut anda. Dan terimalah konsekuensinya. Saran saya, buatlah strategi untuk mencapai tujuan hidup anda. Kalau anda berkenan jadi pedagang asingan, jangan seumur hidup jadi pedagang asongan. Jadikan pekerjaan dan pengalaman itu sebagai batu loncatan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Ada banyak cara pergi ke Bandung. Anda bisa naik pesawat, naik mobil, naik sepeda motor, naik sepeda atau berjalan kaki. Tanpa uang di kantong, anda bisa mulai dengan berjalan kaki. Sepanjang berjalan kaki, anda bisa nyambi mencari uang, untuk membeli sepeda atau kendaraan lain. Tidak selamanya berjalan kaki kan?

Saturday, 10 October 2015

Cerita Memiliki Usaha Kecil-Kecilan Agar Tidak Mengandalkan Gaji

Saya berikan contoh nyata, yang saya harap bisa menjadi inspirasi bagi bapak untuk mulai bertindak.

Di Institut Kemandirian, kami juga memiliki tenaga Satpam, yang jam kerjanya mirip-mirip bapak. Dari jam 19.00 malam sampai jam 05.00 pagi, beliau melaksanakan tugasnya. Beberapa kali saya melakukan inspeksi mendadak pada tengah malam, dan belum pernah sekali pun saya melihat atau menemukan beliau tidur dalam tugasnya. Dalam penilaian saya, beliau memang cukup punya dedikasi dan tanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.

Gedung Institut Kemandirian memang sebuah gedung baru, yang dibangun setahun yang lalu. Dan petugas kami itu, sudah bertugas sejak awal pembangunan gedung. Dan ketika saya mulai diberi wewenang untuk memimpin Institut Kemandirian, beliau mulai melakukan PDKT (pendekatan) kepada saya. Beliau mengutarakan niatnya pada saya, untuk menyiapkan makan siang untuk kami (seluruh staf di Institut Kemandirian) serta para siswa nantinya. Istrinya memiliki kemampuan memasak yang lumayan baik dan itu dijadikannya sebagai sebuah nilai tambah yang efektif. Ketika pertama kali kami secara resmi masuk kantor, beliau dan istrinya datang ke kantor dengan membawa sejumlah makanan untuk makan siang.

Surprise sekali. Dan sejak seminggu lalu istri beliau mengisi kantin yang ada di Institut Kemandirian. Menjelang tengah hari, beliau mengantar istrinya ke kantor sambil membawa makanan untuk dijual di kantin. Beliau sendiri tetap bertugas sebagai Satpam.

Sekarang, di luar penghasilan sebagai Satpam, beliau juga punya penghasilan dari kantin. Bagaimana dengan anda? Berusahalah untuk menemukan kelebihan-kelebihan pada keluarga anda (anda dan juga istri anda). Dengan nikmat dan rizki yang sudah Allah berikan pada anda, memang anda harus bersyukur. Tapi perspektif bersyukur pada diri anda, mungkin berbeda dengan saya pribadi. Bagi saya, bersyukur bukan hanya sekedar mengucap hamdalah.

Allah sudah memberi banyak pada kita. Sekalipun kita mencoba menghitung semua nikmat Allah, tentu tidak akan bisa terhitung semuanya. Dan bayangkan jika seandainya anda memberikan hadiah (misalnya berupa pakaian) kepada istri anda, tetapi seumur hidup pakaian itu sama sekali tidak pernah dipakai. Apa perasaan anda? Mungkin anda marah. Mungkin juga anda menyesal. Untuk apa memberi jika tidak dipakai.

Apalagi Allah yang sudah memberikan segalanya bagi manusia. Fisik sempurna, kemampuan otak dalam berfikir, kesehatan dan sebagainya. Jika itu tidak digunakan sama sekali oleh manusia, mengucapkan hamdalah belumlah merupakan syukur yang sempurna.

Monday, 5 October 2015

Modal Awal Untuk Usah


 Ada sebuah pepatah Inggris yang saya kutip disini. No dream comes true until you wake up and go to work. Tidak ada satupun impian bisa menjadi kenyataan hingga kau bangun dari tidurmu dan bekerja. Jacob Bronowski juga memperkuat hal itu. Dunia ini hanya dapat dimenangkan dengan tindakan, bukan dengan permenungan atau berpangku tangan. Tangan adalah sisi tajam dari pikiran. Setiap orang punya tujuan sendiri-sendiri dalam hidupnya. Ada yang ingin sekedar hidup dan menjalaninya dengan ala kadarnya. Dan di dunia, orang-orang seperti ini lah yang mayoritas.

Mereka hanya hidup seperti mengikuti aliran air, sampai akhirnya bermuara pada akhir kehidupan. Hasilnya, mereka hanya menjadi orang biasa-biasa saja. Untuk hanya sekedar hidup, manusia tidak perlu bersusah-payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat kehidupannya. Namun sebagai makhluk yang paling istimewa di antara semua ciptaan Allah, kita berkewajiban untuk mendapatkan kehidupan yang lebih berarti. Tidak hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga untuk sebanyak mungkin orang lain. Kita diperintahkan untuk berupaya semaksimal mungkin.

Sebuah pepatah lain menyebutkan disini, find a meaningful need and fill it better than anyone else. Kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun. Make a life, not merely a living. Ciptakan kehidupan, bukan sekedar hidup. Anda sudah menentukan, bahwa anda ingin berbisnis. It’s oke. Tidak ada yang salah. Hidup adalah pilihan, dan anda punya otoritas penuh untuk menentukan pilihan hidup anda. Yang penting, setelah pilihan ditetapkan, mulai lah bertindak. Seringkali orang berhasil mencapai kesuksesan bukan karena tindakan besar, tetapi tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Tentukanlah, bisnis apa yang ingin anda garap. Lahan bisnis sangat luas, dan tidak semuanya bisa anda garap sekaligus. Jadi, tentukan lahan garapan anda secara spesifik. Sebagai mahasiswa, apa yang bisa anda lakukan untuk mencapai tujuan anda? Saya tidak bisa membayangkan sosok anda. Tetapi citra mahasiswa rata-rata yang ada dalam benak saya, adalah sosok yang minim keterampilan, minim modal tapi banyak keinginan. Mungkin ini salah. Tapi apa pun kondisi anda, mulai lah dari apa yang anda bisa. Minim keterampilan, belajarlah keterampilan yang sesuai dengan minat anda.

Mungkin minat itu masih beragam. Tidak apa-apa. Anda masih punya waktu cukup lama untuk mengeksplorasi minat anda itu. Tapi jangan terlalu lama. Paling lama 5 – 6 tahun. Minim modal, berusaha lah untuk memperolehnya. Bisa pinjam (atau minta) orang tua. Bisa buat proposal, dengan harapan ada orang yang baik budi dan berminat memodali anda. Atau anda bisa mulai bekerja sambilan. Hasilnya anda kumpulkan untuk modal usaha. Itu semua harus anda mulai. Sekarang. Jangan tunda lagi sampai lulus kuliah.
Hidup anda, harus anda perjuangkan sendiri, tanpa perlu menunggu pertolongan orang lain terlebih dahulu. Bukan berarti menolak pertolongan. Tapi, jika pun tidak ada orang yang membantu, anda bisa melakukannya sendiri. Ingat! Sedikit tindakan anda saat ini, akan punya arti yang sangat besar untuk masa depan anda kelak.