Saya berikan contoh nyata, yang saya harap bisa menjadi inspirasi bagi bapak untuk mulai bertindak.
Di Institut Kemandirian, kami juga memiliki tenaga Satpam, yang jam kerjanya mirip-mirip bapak. Dari jam 19.00 malam sampai jam 05.00 pagi, beliau melaksanakan tugasnya. Beberapa kali saya melakukan inspeksi mendadak pada tengah malam, dan belum pernah sekali pun saya melihat atau menemukan beliau tidur dalam tugasnya. Dalam penilaian saya, beliau memang cukup punya dedikasi dan tanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.
Gedung Institut Kemandirian memang sebuah gedung baru, yang dibangun setahun yang lalu. Dan petugas kami itu, sudah bertugas sejak awal pembangunan gedung. Dan ketika saya mulai diberi wewenang untuk memimpin Institut Kemandirian, beliau mulai melakukan PDKT (pendekatan) kepada saya. Beliau mengutarakan niatnya pada saya, untuk menyiapkan makan siang untuk kami (seluruh staf di Institut Kemandirian) serta para siswa nantinya. Istrinya memiliki kemampuan memasak yang lumayan baik dan itu dijadikannya sebagai sebuah nilai tambah yang efektif. Ketika pertama kali kami secara resmi masuk kantor, beliau dan istrinya datang ke kantor dengan membawa sejumlah makanan untuk makan siang.
Surprise sekali. Dan sejak seminggu lalu istri beliau mengisi kantin yang ada di Institut Kemandirian. Menjelang tengah hari, beliau mengantar istrinya ke kantor sambil membawa makanan untuk dijual di kantin. Beliau sendiri tetap bertugas sebagai Satpam.
Sekarang, di luar penghasilan sebagai Satpam, beliau juga punya penghasilan dari kantin. Bagaimana dengan anda? Berusahalah untuk menemukan kelebihan-kelebihan pada keluarga anda (anda dan juga istri anda). Dengan nikmat dan rizki yang sudah Allah berikan pada anda, memang anda harus bersyukur. Tapi perspektif bersyukur pada diri anda, mungkin berbeda dengan saya pribadi. Bagi saya, bersyukur bukan hanya sekedar mengucap hamdalah.
Allah sudah memberi banyak pada kita. Sekalipun kita mencoba menghitung semua nikmat Allah, tentu tidak akan bisa terhitung semuanya. Dan bayangkan jika seandainya anda memberikan hadiah (misalnya berupa pakaian) kepada istri anda, tetapi seumur hidup pakaian itu sama sekali tidak pernah dipakai. Apa perasaan anda? Mungkin anda marah. Mungkin juga anda menyesal. Untuk apa memberi jika tidak dipakai.
Apalagi Allah yang sudah memberikan segalanya bagi manusia. Fisik sempurna, kemampuan otak dalam berfikir, kesehatan dan sebagainya. Jika itu tidak digunakan sama sekali oleh manusia, mengucapkan hamdalah belumlah merupakan syukur yang sempurna.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.