Ada cerita seorang mahasiswa di Amerika Serikat, yang tertidur di dalam kelas ketika seorang dosen sedang mengajar mata kuliah matematika. Dan ketika sang dosen menutup kuliah, ia hanya melihat satu buah soal yang dianggapnya sebagai pekerjaan rumah, tertulis di white board. Disalinnya soal itu, dan dicobanya untuk mengerjakannya. Ia memang merasakan kesulitan yang tinggi dalam menyelesaikan soal itu. Perlu waktu hampir satu minggu, sampai akhirnya ia mampu menyelesaikan soal yang sangat sulit itu.
Satu minggu kemudian, kuliah matematika berlangsung kembali. Si mahasiswa
menyerahkan soal dan jawaban yang dianggapnya pekerjaan rumah. Sang dosen terkejut. Mengapa ? Karena ternyata soal yang tercatat di white board seminggu yang lalu ternyata adalah soal yang tidak bisa diselesaikannya. Dan tidak ada mahasiswa yang mampu mengerjakannya. Sebagian mungkin karena malas. Sebagian
lagi mungkin berpendapat, dosen matematika saja tidak mampu menyelesaikannya, apalagi mahasiswa? Tapi si mahasiswa yang ketiduran tadi, sama sekali tidak tahu
bahwa soal yang diberikan adalah soal yang tidak bisa diselesaikan oleh sang dosen.
Dan ketidaktahuan itu justru membuatnya mampu menyelesaikan soal sulit itu. Ini memang kisah nyata, yang saya baca dalam buku Unlimited Power karya Anthony
Robbins. Saya beruntung pernah membacanya. Saya pun pernah membaca sepotong
kalimat dalam sebuah buku, yang menyatakan bahwa tingkat keberanian encoba dari
seseorang sejak kecil sampai dewasa cenderung menurun. Dan pernyataan ini ada
benarnya juga. Ketika kita masih kecil, seringkali kita melakukan sesuatu tanpa
mempertimbangkan akibat yang mungkin bisa terjadi.
Bahkan, kalaupun terjadi akibat yang buruk, kita (yang masih kecil) seringkali mengabaikannya. Sebagai contoh, ketika kita mulai belajar berjalan. Saya yakin, semua kita tidak pernah berpikir panjang tentang akibat belajar
berjalan. Bahkan, ketika kita terjatuh ketika belajar berjalan, kita tidak takut
mengulanginya lagi. Sampai akhirnya kita bisa berjalan dan bahkan berlari. Dulu
kita punya hukum 1 : 99. Satu keberhasilan harus ditebus dengan 99 kegagalan.
Tapi, semakin bertambahnya usia, kita semakin mengurangi angka 99 itu, bahkan
sampai ke titik nol. Kini, kita seakan-akan ingin punya hukum 1 : 0. Kita ingin
keberhasilan dicapai dari satu kali usaha. Dan itu sangat kecil kemungkinannya. Saya bukan menganjurkan anda untuk kembali lagi ke masa kecil, dan sama sekali tidak memikirkan resiko. Jika anda menghadapi keragu-raguan, pikirkan akibat
baik dan buruknya. Pertimbangkan lah.
Jika lebih banyak baiknya, lakukan. Jika lebih banyak buruknya, tinggalkan. Jangan terlalu lama diombang- ambingkan keragu-raguan. Saran saya, beranikan diri untuk mencoba. Lebih baik gagal setelah mencoba, daripada tidak pernah mencobanya sama sekali.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.